Sering kita mendengar definisi umum tentang Tuhan: Pencipta, Pemelihara, dan Penguasa alam semesta. Definisi ini benar, tetapi Al-Qur’an mengajarkan makna yang lebih dalam. Dalam bahasa tauhid, Tuhan bukan hanya Pencipta, melainkan juga “Dia yang diibadahi” — Dia yang menjadi pusat cinta, pengagungan, pengharapan, dan ketaatan kita.
Apa Arti “Diibadahi”?
“Ibadah” dalam Islam bukan hanya sujud, shalat, atau ritual tertentu. Kata “ibadah” berasal dari kata “ʿabada” yang artinya tunduk, patuh, merendahkan diri karena cinta dan pengagungan. Para ulama mendefinisikannya:
“Ibadah adalah nama yang mencakup semua yang dicintai dan diridhai Allah berupa ucapan dan perbuatan, lahir maupun batin.”
Artinya, ketika kita berkata “Allah yang diibadahi” maksudnya adalah:
- Ketaatan kita hanya kepada Allah.
- Cinta terbesar kita hanya kepada-Nya.
- Harapan dan rasa takut tertinggi kita hanya kepada-Nya.
- Segala aktivitas kita diniatkan demi ridha-Nya.
Bahaya “Menuhankan” Selain Allah
Kalau hati dan pikiran kita sepenuhnya mengacu kepada sesuatu selain Allah; menjadikannya pusat pengorbanan, pusat pengharapan, pusat ketakutan, dan pusat cinta tertinggi, secara batin kita telah memberi tempat ketuhanan pada sesuatu itu. Inilah yang disebut Al-Qur’an sebagai “menjadikan tandingan bagi Allah” (syirik) meski lisan kita mengaku bertauhid.
Allah berfirman:
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…” (QS. Al-Baqarah: 165)
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:
“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham…” (HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang hatinya diperbudak harta telah menjadi “hamba” harta.
Menata Hati Agar Hanya Kepada-Nya
- Kenali pusat cinta dan ketaatan kita — tanyakan pada diri sendiri: untuk siapa saya berusaha? Siapa yang paling saya takuti, saya harap, saya cintai?
- Niatkan semua aktivitas karena Allah — pekerjaan, keluarga, ibadah, semua menjadi ibadah bila diniatkan untuk-Nya.
- Tetap beri tempat wajar pada urusan dunia — mencintai keluarga, harta, dan duniawi itu boleh, tapi jangan melebihi cinta dan ketaatan kepada Allah.
- Perkuat tauhid uluhiyah — latih diri dengan dzikir, doa, dan belajar makna Lâ ilâha illallâh supaya hati kita selalu kembali pada pusat yang benar.
Kesimpulan Motivasi
Tuhan bukan sekadar yang kita akui sebagai Pencipta. Tuhan adalah yang kita ibadahi, pusat pengorbanan, cinta, harapan, dan ketaatan kita. Jika seluruh gerak hati, pikiran, dan langkah kita tertuju hanya kepada Allah, maka kita telah memurnikan tauhid. Jika tidak, kita sedang “menuhankan” selain-Nya.
Mari jadikan setiap detik, setiap niat, dan setiap langkah kita sebagai ibadah hanya untuk Allah. Dengan begitu, hidup kita akan terarah, bersih dari ketergantungan selain-Nya, dan penuh ketenangan karena hati kita hanya bergantung pada Sang Pencipta.
By: Andik Irawan